Workshop Internal Audit : Optimalisasi Peran Internal Audit Perguruan Tinggi

MALANG – Hari Kamis (5/3) lalu, Piranha Smart Center Malang mengadakan workshop internal audit bagi SPI perguruan tinggi. Acara yang berlokasi di Guest House Universitas Brawijaya ini menghadirkan narasumber San Rudiyanto, SE, MSA, Ak, CA, AAP-B, CPA, ketua bidang pengawasan Satuan Pengawas Internal (SPI) UB.

Diikuti oleh berbagai personil SPI mulai dari Lampung hingga Madiun, San menjelaskan secara komprehensif bagaimana peran dan cara kerja SPI di perguruan tinggi. Sebagian peserta yang berasal dari perguruan tinggi swasta mengemukakan kondisi SPI masing-masing. Perbedaan posisi secara struktural dan kinerjanya memberikan wawasan tambahan baik bagi pemateri maupun peserta dari UNISMA yang diwakili oleh Restu Millaningtyas dan Kurnia Islami.

Peserta Workshop Internal Audit dari berbagai SPI PTS dan PTN

“Di mana pun posisi SPI itu boleh berbeda, yang terpenting posisi struktural tersebut bisa menjamin independensi dan kebebasan SPI dalam pengawasan,” jelas San Rudiyanto.

Beliau juga menuturkan, untuk menunjang kinerja yang optimal, personil SPI juga harus sesuai kualifikasi yang dibutuhkan. Misalnya kualifikasi audit SDM, sarana prasarana, hingga keuangan, dapat ditunjang dengan pelatihan serta sertifikasi bagi auditor non-dosen.

Keberadaan SPI secara independen dan objektif diperlukan untuk mendorong manajemen perguruan tinggi yang lebih baik. Meski demikian, hal ini bukan berarti melibatkan SPI secara operasional dalam kegiatan manajemen tersebut.

“SPI boleh terlibat dalam kegiatan penyusunan maupun review terkait manajemen, namun posisinya hanya mengawasi, sesuai atau tidak dengan peraturan yang berlaku dan juga memberi masukan jika diperlukan. Tidak terlibat langsung pada pembuatannya. Hal ini untuk menjaga independensi SPI dalam pengawasan,” tutur San.

Selain menuturkan bagaimana kinerja dan posisi SPI, San juga menuturkan bagaimana SPI UB membuat format Program Kerja Audit (PKA) dan Kertas Kerja Audit (KKA) yang relevan dengan kebutuhan audit. Beliau juga memberikan wawasan kepada peserta mengenai metode Risk-Based Audit.

“Risk-based audit memudahkan kita untuk memilih objek audit secara efektif, karena memulai audit dengan unit atau aktivitas yang beresiko tinggi pada manajemen,” jelas San Rudiyanto.

Acara workshop audit internal ini diakhiri sore hari dan peserta saling membagi kontak untuk berkomunikasi dan berkonsultasi perkembangan SPI. Bagi SPI Perguruan Tinggi Swasta (PTS) belum ada forum yang menjadi wadah, namun SPI PTS dapat bergabung pada Forum Komunikasi SPI PTN.